Membawa Permainan Tradisi Ke Dalam Pertemuan Internasional

Membawa Permainan Tradisi Ke Dalam Pertemuan Internasional
11/09/2019 No Comments Blog, Portofolio dkviteraa

Pada tanggal 2 s.d. 6 September 2019, selama hampir satu pekan saya berkesempatan merasakan atmosfer internasional dan notabene asing dari sudut pandang desainer dalam Simposium APGN (Asia Pacific Geopark Network) 2019, di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pertemuan ini merupakan simposium internasional dwitahunan dari UNESCO Global Geopark Network (UGGN) lingkup Asia Pasifik. Dikelilingi para ahli geologi dan pengembang geopark dari puluhan Negara termasuk Cina, Vietnam, Thailand, Rusia, Korea, dan Jepang; saya menjadi bagian dari segelintir presenter dengan latar belakang desain.


Presentasi dalam salah stau sesi paralel di APGN 2019

Di sana saya membawa dan mempresentasikan mengenai bagaimana permainan tradisional dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar geologi, khususnya mengenai Gunung Tambora. Presentasi dengan judul “Learning Geological Phenomenon through Traditional Games; Study Case: Tambora’s 1815 Eruption” yang dikembangkan bersama salah satu penggerak Geopark Tambora, Amanda Fauziah.



Desain ini dikembangkan dari permainan tradisional congklak (dakon / south Asian mancala). Dengan menggunakan metode revitalisasi tradisi (yang dikembangkan oleh Adhi Nugraha, 2012), permainan congklak ini diadaptasi dan didesain ulang untuk menyampaikan mengenai berbagai jenis material yang terlontar dari ledakan Tambora di tahun 1815 silam.

Salah seorang peserta berkomentar dan mengapresiasi usaha ini sekaligus menekankan bahwa nilai-nilai dan kearifan lokal perlu diangkat dalam pengembangan Geopark. Beberapa peserta asing juga tertarik dan mencoba memainkan permainan ini. Salah satunya adalah peserta intern dari Northeastern University, Boston, yang akrab dipanggil Zach, berulang kali memainkan permainan ini.

Pengalaman ini bisa menjadi langkah awal bagi para desainer grafis ataupun produk, terlebih khusus para akademisi desain, untuk melangkah melintasi genre atau kelompok keilmuan. Berbincang dan berinteraksi dengan ilmu geologi, biologi, dan bidang-bidang lain dalam ranah sains dan engineering, hingga menemukan “serendipity” dalam pertemuan dan perlintasan. Karena saya kira ide dan inovasi akan lebih mudah timbul dari pertemuan dan perlintasan keilmuan. 

(Hajid, 2019)

Tags

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Desain Komunikasi Visual