DKV News — Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan (FTIK) Institut Teknologi Sumatera (ITERA) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Evaluasi Kurikulum Tahun Akademik 2026/2027 pada Rabu, 28 Oktober 2026. Kegiatan berlangsung secara hybrid di Gedung E ITERA dan melalui Zoom Meeting. FGD ini menjadi bagian dari upaya evaluasi dan pengembangan kurikulum agar selaras dengan standar Asosiasi Program Studi Desain Komunikasi Visual Indonesia (ASPRODI) serta Lembaga Akreditasi Mandiri Desain, Perencanaan, dan Industri Kreatif (LAMDEPILAR).
Kegiatan dibuka oleh Gabriella Yunita Sibarani, S.Kom., M.Ds., kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Program Studi DKV ITERA, Dr.Sn. Namuri Migotuwio, S.Sn., M.Sn. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa FGD ini menjadi langkah penting untuk mengevaluasi relevansi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang telah diterapkan selama satu tahun terakhir.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik FTIK ITERA, Ir. Mustarakh Gelfi, S.T., M.Sc., Ph.D. Ia menyoroti pentingnya penyesuaian kurikulum yang telah dilakukan ITERA sejak 2025 agar tetap relevan dengan perkembangan zaman dan arahan ASPRODI, sekaligus memperhatikan mekanisme serta kebijakan internal institusi.
Selanjutnya, Ketua Tim Kurikulum DKV ITERA, Arif Budiman, S.Sn., M.Sn., memaparkan kondisi kurikulum yang saat ini diterapkan di program studi. Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh M. Rizaldi, S.T., M.Ds., Wakil Ketua Umum ASPRODI DKV sekaligus dosen UMM Jakarta, melalui materi bertajuk “Evaluasi dan Kontekstualisasi Kurikulum OBE DKV”.
Dalam pemaparannya, M. Rizaldi menjelaskan bahwa penerapan OBE tidak hanya berfokus pada kesesuaian rumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), tetapi juga bagaimana seluruh aktivitas akademik maupun nonakademik dapat mendukung pencapaian kompetensi lulusan. Ia turut membahas keterampilan abad ke-21 melalui konsep 8C, yaitu Creativity, Critical Thinking, Communication, Collaboration, Creation, Cultural Orientation, Credibility, dan Contextual.
Selain itu, ia menjelaskan pentingnya mengakomodasi delapan CPL inti yang direkomendasikan ASPRODI bagi program studi DKV di Indonesia. Jumlah CPL juga disarankan berada pada kisaran maksimal 10–12 agar pemetaan ke Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dapat dilakukan secara lebih terarah.
Pembahasan lainnya mencakup klasterisasi program studi berdasarkan kondisi institusi dan kekuatan sumber daya manusia yang dimiliki. Penentuan klaster perlu mempertimbangkan kemampuan serta potensi masing-masing program studi, sekaligus tetap selaras dengan visi dan misi universitas maupun fakultas.
Melalui FGD ini, DKV ITERA berupaya memperkuat evaluasi dan pengembangan kurikulum agar mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis di bidang desain komunikasi visual, tetapi juga kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta kesiapan menghadapi kebutuhan dan tantangan dunia profesional. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah pengembangan berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan Program Studi DKV ITERA.






